September 28, 2026
Tes IMS: Jenis Pemeriksaan dan Kapan Perlu Dilakukan

Klinik Apollo, Jakarta – Tes infeksi menular seksual (IMS) merupakan pemeriksaan untuk mengetahui ada atau tidaknya infeksi, termasuk gonore, klamidia, sifilis, HIV, dan infeksi lainnya.
Pemeriksaan penting dilakukan karena sebagian infeksi menular seksual bisa berlangsung tanpa gejala, tetapi tetap bisa menular kepada pasangan dan menimbulkan komplikasi.
- Apa Itu Tes Infeksi Menular Seksual?
- Jenis Tes IMS yang Biasa Dokter Lakukan
- Kapan Perlu Melakukan Tes IMS?
- Apakah Semua IMS Bisa Diperiksa dengan Satu Tes?
- Persiapan Sebelum Tes Infeksi Menular Seksual
- Pentingnya Tes Infeksi Menular Seksual
- FAQ Seputar Tes IMS
- Pentingnya Tes IMS dengan Fasilitas Medis Lengkap di Klinik Apollo Jakarta
Apa Itu Tes Infeksi Menular Seksual?
Tes infeksi menular seksual adalah pemeriksaan medis, untuk mendeteksi infeksi yang bisa menular melalui aktivitas seksual. Jenis pemeriksaan yang dokter lakukan tidak selalu sama pada setiap orang. Dokter bisa menentukan tes berdasarkan:
- Gejala yang penderita alami
- Riwayat hubungan seksual dan paparan
- Jenis aktivitas seksual yang dilakukan
- Kondisi kesehatan dan faktor risiko
- Hasil pemeriksaan fisik
- Apakah sebelumnya pernah mengalami IMS
Menurut World Health Organization (WHO), banyak IMS tidak menimbulkan gejala sehingga pemeriksaan laboratorium bisa membantu menemukan infeksi yang tidak terlihat secara klinis.
Jenis Tes IMS yang Biasa Dokter Lakukan
Berikut adalah beberapa jenis pemeriksaan yang bisa berbeda, sesuai dengan dugaan, antara lain:
1. Tes HIV
Tes HIV dokter lakukan untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Pemeriksaan bisa menggunakan sampel darah atau metode lain, sesuai jenis tes yang tersedia.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC), merekomendasikan setiap orang usia 13-64 tahun menjalani tes HIV setidaknya satu kali, sementara orang dengan faktor risiko tertentu mungkin membutuhkan pemeriksaan lebih sering.
2. Tes Sifilis
Sifilis umumnya dokter periksa melalui sampel darah. Pemeriksaan bisa melibatkan tes serologi untuk mencari tanda infeksi Treponema pallidum. Tes sifilis bisa perlu ketika terdapat luka atau ruam yang mencurigakan, memiliki faktor risiko, atau sebagai bagian dari pemeriksaan IMS tertentu.
3. Tes Gonore dan Klamidia
Gonore dan klamidia bisa diperiksa menggunakan sampel urine atau usap dari lokasi tubuh yang terinfeksi. Pada kondisi tertentu, pemeriksaan bisa dokter lakukan pada:
- Uretra
- Vagina atau leher rahim
- Tenggorokan
- Rektum
Lokasi pengambilan sampel perlu sesuai dengan riwayat paparan. WHO juga menekankan pentingnya pemeriksaan pada lokasi anotomi yang sesuai, karena infeksi bisa terjadi tanpa gejala.
4. Pemeriksaan Herpes dan IMS Lainnya
Herpes genital bisa diperiksa berdasarkan gejala, terutama ketika terdapat luka atau lepuhan yang mencurigakan. Dalam kondisi tertentu, pemeriksaan darah bisa dokter pertimbangkan, tetapi tidak semua orang tanpa gejala memerlukan pemeriksaan herpes secara rutin.
Pemeriksaan lain bisa dokter lakukan untuk infeksi seperti trikomoniasis atau Mycoplasma genitalium sesuai keluhan dan penilaian dokter.
Kapan Perlu Melakukan Tes IMS?
Tes infeksi menular seksual dipertimbangkan ketika terdapat kondisi yang meningkatkan kemungkinan infeksi, seperti:
1. Mengalami Gejala yang Mengarah pada IMS – Contohnya penis atau vagina mengeluarkan cairan tidak normal, sakit saat kencing, luka atau lepuhan pada kelamin, gatal, ruam, nyeri panggul, atau pembengkakan di area genital.
2. Memiliki Pasangan Seksual Baru – Pasangan baru bisa menjadi salah satu alasan untuk mendiskusikan kebutuhan pemeriksaan IMS dengan dokter, terutama jika status IMS pasangan tidak diketahui.
3. Pasangan Diketahui Mengalami IMS – Jika pasangan mendapatkan diagnosis IMS, pemeriksaan perlu dipertimbangkan meskipun belum mengalami gejala.
4. Melakukan Hubungan Seksual Tanpa Kondom – Paparan seksual tanpa kondom bisa meningkatkan risiko penularan berbagai IMS. Jenis pemeriksaan yang diperlukan bergantung pada bentuk paparan dan waktu terjadinya.
5. Tidak Mengalami Gejala Tetapi Memiliki Faktor Risiko – Tidak adanya gejala bukan berarti terbebas dari IMS. WHO menyebutkan bahwa banyak IMS bersifat asimptomatik dan merekomendasikan pendekatan skrining pada kelompok serta situasi tertentu.
Apakah Semua IMS Bisa Diperiksa dengan Satu Tes?
Tidak. Tidak ada satu tes yang bisa mendeteksi seluruh IMS. Setiap infeksi memiliki metode pemeriksaan yang berbeda.
Misalnya, gonore dan klamidia bisa dokter periksa melalui tes molekuler dari urine atau sampel usap, sedangkan sifilis dan HIV umumnya menggunakan pemeriksaan darah.
Oleh karena itu, dokter perlu mengetahui keluhan, riwayat paparan, dan lokasi paparan sebelum menentukan pemeriksaan yang sesuai. WHO menyediakan panduan diagnostik IMS yang mencakup berbagai metode pengambilan sampel dan pemeriksaan laboratorium.
Persiapan Sebelum Tes Infeksi Menular Seksual
Persiapan bergantung pada jenis pemeriksaan yang akan pasien lakukan. Sebelum menjalani tes, sebaiknya:
- Sampaikan kepada dokter kapan terakhir melakukan hubungan seksual
- Informasi jenis aktivitas seksual yang dokter lakukan
- Beri tahu gejala yang muncul dan kapan mulai terjadi
- Sampaikan apakah pasangan pernah terdiagnosis IMS
- Informasikan obat atau antibiotik yang sedang atau baru saja digunakan
- Ikuti instruksi khusus dari fasilitas kesehatan terkait pengambilan sampel
Informasi tersebut bisa membantu dokter memilih pemeriksaan yang lebih sesuai dengan masing-masing penderita.

Ilustrasi seorang dokter yang menjalani tes IMS
Pentingnya Tes Infeksi Menular Seksual
Tes IMS bisa membantu menemukan infeksi lebih awal, sehingga penanganan bisa dilakukan sesuai penyebabnya. Pemeriksaan juga membantu mengurangi risiko penularan kepada pasangan.
Berdasarkan pengalaman tim medis Klinik Apollo Jakarta, keluhan seperti cairan abnormal dari penis atau vagina, luka genital, dan sakit saat kencing tidak sebaiknya langsung dianggap sebagai satu jenis infeksi.
Pemeriksaan diperlukan untuk membantu membedakan kemungkinan penyebab dan menentukan penanganan yang sesuai. WHO pada panduan terbarunya juga menekankan peningkatan akses terhadap diagnosis, termasuk identifikasi IMS yang tidak bergejala.
FAQ Seputar Tes IMS
1. Apakah Tes IMS Harus Penderita Lakukan Jika Tidak Ada Gejala?
Bisa, terutama pada orang dengan faktor risiko tertentu. Banyak IMS bisa tidak menimbulkan gejala, sehingga seseorang tetap bisa terinfeksi dan menularkannya kepada pasangan.
2. Apakah Tes IMS Bisa Dilakukan dari Urine?
Bisa untuk beberapa infeksi, termasuk gonore dan klamidia pada kondisi tertentu. Namun, pemeriksaan bisa membutuhkan sampel lain seperti darah atau usap sesuai infeksi dan lokasi paparan.
3. Apakah Tes Darah Bisa Mendeteksi Semua IMS?
Tidak. Tes darah bisa digunakan untuk beberapa IMS seperti HIV, sifilis, dan infeksi lainnya, tetapi tidak menggantikan seluruh jenis pemeriksaan IMS.
4. Kapan Sebaiknya Tes IMS Penderita Lakukan Setelah Hubungan Seksual?
Waktu pemeriksaan bergantung pada jenis IMS, jenis tes, dan waktu paparan. Karena periode deteksi berbeda-beda, konsultasikan kepada dokter agar waktu pemeriksaan bisa dokter sesuaikan dengan kondisi Anda.
5. Apakah Pasangan Juga Perlu Melakukan Tes IMS?
Jika salah satu pasangan terdiagnosis mengalami IMS, pasangan seksual juga sebaiknya berkonsultasi untuk mengetahui apakah memerlukan pemeriksaan atau penanganan. Penanganan pasangan merupakan bagian penting dalam mencegah infeksi berulang.
Baca Juga: Apakah Kencing Nanah Bisa Sembuh Sendiri? Ini Fakta Medisnya
Pentingnya Tes IMS dengan Fasilitas Medis Lengkap di Klinik Apollo Jakarta
Melakukan tes infeksi menular seksual, bisa membantu dokter untuk menentukan penyebab pasti dan memberikan penanganan medis yang tepat.
Jangan cemas! Anda bisa berkonsultasi dengan dokter berpengalaman di Klinik Apollo Jakarta untuk mendapatkan informasi yang akurat.
Dengan fasilitas dan juga peralatan medis yang lengkap, bisa membantu dokter untuk memberikan penanganan yang sesuai dan optimal.
Kami juga menyediakan layanan Konsultasi Dokter Online, yang memudahkan pasien dalam berkonsultasi kapan dan di mana saja.
Layanan ini bisa Anda akses melalui Chat WhatsApp, yang beroperasi selama 24 jam dan tersedia secara gratis.
Jadi, tunggu apalagi? Segera konsultasikan kondisi Anda dengan tim medis kami dan dapatkan perawatan yang tepat.
Ditinjau secara medis oleh Tim Medis Klinik Apollo Jakarta
Artikel Menarik Lainnya
September 28, 2026
Tes IMS: Jenis Pemeriksaan dan Kapan Perlu Dilakukan

Klinik Apollo, Jakarta – Tes infeksi menular seksual (IMS) merupakan pemeriksaan untuk mengetahui ada atau tidaknya infeksi, termasuk gonore, klamidia, sifilis, HIV, dan infeksi lainnya.
Pemeriksaan penting dilakukan karena sebagian infeksi menular seksual bisa berlangsung tanpa gejala, tetapi tetap bisa menular kepada pasangan dan menimbulkan komplikasi.
- Apa Itu Tes Infeksi Menular Seksual?
- Jenis Tes IMS yang Biasa Dokter Lakukan
- Kapan Perlu Melakukan Tes IMS?
- Apakah Semua IMS Bisa Diperiksa dengan Satu Tes?
- Persiapan Sebelum Tes Infeksi Menular Seksual
- Pentingnya Tes Infeksi Menular Seksual
- FAQ Seputar Tes IMS
- Pentingnya Tes IMS dengan Fasilitas Medis Lengkap di Klinik Apollo Jakarta
Apa Itu Tes Infeksi Menular Seksual?
Tes infeksi menular seksual adalah pemeriksaan medis, untuk mendeteksi infeksi yang bisa menular melalui aktivitas seksual. Jenis pemeriksaan yang dokter lakukan tidak selalu sama pada setiap orang. Dokter bisa menentukan tes berdasarkan:
- Gejala yang penderita alami
- Riwayat hubungan seksual dan paparan
- Jenis aktivitas seksual yang dilakukan
- Kondisi kesehatan dan faktor risiko
- Hasil pemeriksaan fisik
- Apakah sebelumnya pernah mengalami IMS
Menurut World Health Organization (WHO), banyak IMS tidak menimbulkan gejala sehingga pemeriksaan laboratorium bisa membantu menemukan infeksi yang tidak terlihat secara klinis.
Jenis Tes IMS yang Biasa Dokter Lakukan
Berikut adalah beberapa jenis pemeriksaan yang bisa berbeda, sesuai dengan dugaan, antara lain:
1. Tes HIV
Tes HIV dokter lakukan untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Pemeriksaan bisa menggunakan sampel darah atau metode lain, sesuai jenis tes yang tersedia.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC), merekomendasikan setiap orang usia 13-64 tahun menjalani tes HIV setidaknya satu kali, sementara orang dengan faktor risiko tertentu mungkin membutuhkan pemeriksaan lebih sering.
2. Tes Sifilis
Sifilis umumnya dokter periksa melalui sampel darah. Pemeriksaan bisa melibatkan tes serologi untuk mencari tanda infeksi Treponema pallidum. Tes sifilis bisa perlu ketika terdapat luka atau ruam yang mencurigakan, memiliki faktor risiko, atau sebagai bagian dari pemeriksaan IMS tertentu.
3. Tes Gonore dan Klamidia
Gonore dan klamidia bisa diperiksa menggunakan sampel urine atau usap dari lokasi tubuh yang terinfeksi. Pada kondisi tertentu, pemeriksaan bisa dokter lakukan pada:
- Uretra
- Vagina atau leher rahim
- Tenggorokan
- Rektum
Lokasi pengambilan sampel perlu sesuai dengan riwayat paparan. WHO juga menekankan pentingnya pemeriksaan pada lokasi anotomi yang sesuai, karena infeksi bisa terjadi tanpa gejala.
4. Pemeriksaan Herpes dan IMS Lainnya
Herpes genital bisa diperiksa berdasarkan gejala, terutama ketika terdapat luka atau lepuhan yang mencurigakan. Dalam kondisi tertentu, pemeriksaan darah bisa dokter pertimbangkan, tetapi tidak semua orang tanpa gejala memerlukan pemeriksaan herpes secara rutin.
Pemeriksaan lain bisa dokter lakukan untuk infeksi seperti trikomoniasis atau Mycoplasma genitalium sesuai keluhan dan penilaian dokter.
Kapan Perlu Melakukan Tes IMS?
Tes infeksi menular seksual dipertimbangkan ketika terdapat kondisi yang meningkatkan kemungkinan infeksi, seperti:
1. Mengalami Gejala yang Mengarah pada IMS – Contohnya penis atau vagina mengeluarkan cairan tidak normal, sakit saat kencing, luka atau lepuhan pada kelamin, gatal, ruam, nyeri panggul, atau pembengkakan di area genital.
2. Memiliki Pasangan Seksual Baru – Pasangan baru bisa menjadi salah satu alasan untuk mendiskusikan kebutuhan pemeriksaan IMS dengan dokter, terutama jika status IMS pasangan tidak diketahui.
3. Pasangan Diketahui Mengalami IMS – Jika pasangan mendapatkan diagnosis IMS, pemeriksaan perlu dipertimbangkan meskipun belum mengalami gejala.
4. Melakukan Hubungan Seksual Tanpa Kondom – Paparan seksual tanpa kondom bisa meningkatkan risiko penularan berbagai IMS. Jenis pemeriksaan yang diperlukan bergantung pada bentuk paparan dan waktu terjadinya.
5. Tidak Mengalami Gejala Tetapi Memiliki Faktor Risiko – Tidak adanya gejala bukan berarti terbebas dari IMS. WHO menyebutkan bahwa banyak IMS bersifat asimptomatik dan merekomendasikan pendekatan skrining pada kelompok serta situasi tertentu.
Apakah Semua IMS Bisa Diperiksa dengan Satu Tes?
Tidak. Tidak ada satu tes yang bisa mendeteksi seluruh IMS. Setiap infeksi memiliki metode pemeriksaan yang berbeda.
Misalnya, gonore dan klamidia bisa dokter periksa melalui tes molekuler dari urine atau sampel usap, sedangkan sifilis dan HIV umumnya menggunakan pemeriksaan darah.
Oleh karena itu, dokter perlu mengetahui keluhan, riwayat paparan, dan lokasi paparan sebelum menentukan pemeriksaan yang sesuai. WHO menyediakan panduan diagnostik IMS yang mencakup berbagai metode pengambilan sampel dan pemeriksaan laboratorium.
Persiapan Sebelum Tes Infeksi Menular Seksual
Persiapan bergantung pada jenis pemeriksaan yang akan pasien lakukan. Sebelum menjalani tes, sebaiknya:
- Sampaikan kepada dokter kapan terakhir melakukan hubungan seksual
- Informasi jenis aktivitas seksual yang dokter lakukan
- Beri tahu gejala yang muncul dan kapan mulai terjadi
- Sampaikan apakah pasangan pernah terdiagnosis IMS
- Informasikan obat atau antibiotik yang sedang atau baru saja digunakan
- Ikuti instruksi khusus dari fasilitas kesehatan terkait pengambilan sampel
Informasi tersebut bisa membantu dokter memilih pemeriksaan yang lebih sesuai dengan masing-masing penderita.

Ilustrasi seorang dokter yang menjalani tes IMS
Pentingnya Tes Infeksi Menular Seksual
Tes IMS bisa membantu menemukan infeksi lebih awal, sehingga penanganan bisa dilakukan sesuai penyebabnya. Pemeriksaan juga membantu mengurangi risiko penularan kepada pasangan.
Berdasarkan pengalaman tim medis Klinik Apollo Jakarta, keluhan seperti cairan abnormal dari penis atau vagina, luka genital, dan sakit saat kencing tidak sebaiknya langsung dianggap sebagai satu jenis infeksi.
Pemeriksaan diperlukan untuk membantu membedakan kemungkinan penyebab dan menentukan penanganan yang sesuai. WHO pada panduan terbarunya juga menekankan peningkatan akses terhadap diagnosis, termasuk identifikasi IMS yang tidak bergejala.
FAQ Seputar Tes IMS
1. Apakah Tes IMS Harus Penderita Lakukan Jika Tidak Ada Gejala?
Bisa, terutama pada orang dengan faktor risiko tertentu. Banyak IMS bisa tidak menimbulkan gejala, sehingga seseorang tetap bisa terinfeksi dan menularkannya kepada pasangan.
2. Apakah Tes IMS Bisa Dilakukan dari Urine?
Bisa untuk beberapa infeksi, termasuk gonore dan klamidia pada kondisi tertentu. Namun, pemeriksaan bisa membutuhkan sampel lain seperti darah atau usap sesuai infeksi dan lokasi paparan.
3. Apakah Tes Darah Bisa Mendeteksi Semua IMS?
Tidak. Tes darah bisa digunakan untuk beberapa IMS seperti HIV, sifilis, dan infeksi lainnya, tetapi tidak menggantikan seluruh jenis pemeriksaan IMS.
4. Kapan Sebaiknya Tes IMS Penderita Lakukan Setelah Hubungan Seksual?
Waktu pemeriksaan bergantung pada jenis IMS, jenis tes, dan waktu paparan. Karena periode deteksi berbeda-beda, konsultasikan kepada dokter agar waktu pemeriksaan bisa dokter sesuaikan dengan kondisi Anda.
5. Apakah Pasangan Juga Perlu Melakukan Tes IMS?
Jika salah satu pasangan terdiagnosis mengalami IMS, pasangan seksual juga sebaiknya berkonsultasi untuk mengetahui apakah memerlukan pemeriksaan atau penanganan. Penanganan pasangan merupakan bagian penting dalam mencegah infeksi berulang.
Baca Juga: Apakah Kencing Nanah Bisa Sembuh Sendiri? Ini Fakta Medisnya
Pentingnya Tes IMS dengan Fasilitas Medis Lengkap di Klinik Apollo Jakarta
Melakukan tes infeksi menular seksual, bisa membantu dokter untuk menentukan penyebab pasti dan memberikan penanganan medis yang tepat.
Jangan cemas! Anda bisa berkonsultasi dengan dokter berpengalaman di Klinik Apollo Jakarta untuk mendapatkan informasi yang akurat.
Dengan fasilitas dan juga peralatan medis yang lengkap, bisa membantu dokter untuk memberikan penanganan yang sesuai dan optimal.
Kami juga menyediakan layanan Konsultasi Dokter Online, yang memudahkan pasien dalam berkonsultasi kapan dan di mana saja.
Layanan ini bisa Anda akses melalui Chat WhatsApp, yang beroperasi selama 24 jam dan tersedia secara gratis.
Jadi, tunggu apalagi? Segera konsultasikan kondisi Anda dengan tim medis kami dan dapatkan perawatan yang tepat.
Artikel Menarik Lainnya






